Pembinaan Kemampuan Pemain Muda Kita

Pembinaan Kemampuan Pemain Muda Kita

Pembinaan Kemampuan Pemain Muda Kita

Kita seharusnya berjuang untuk mengembangkan pemain agar menjadi pemain sepak bola yang modern dan profesional ketimbang menjadi pemain yang tentunya asal-asalan. Pemain yang mengetahui teknik dasar yang didapatkan secara teoritis bukan hanya asal tendang juga pemain yang secara fisik sangat kapabel. Permasalahan kita kemudian adalah lingkungan yang tidak mendukung kepintaran pemain dan intelejensia para pemain tersebut. Juga pemahaman taktik para pemain kita masih terbilang rendah. Pada akhirnya kita gagal mengembangkan justru yang paling penting adalah “mindset kompetitif” Para pelatih yang membina para pemain muda sering terlihat menginstruksikan para pemainnya agar terus menang.

Walaupun dengan cara bertahan atau membuang bola sejauh-jauhnya padahal pola yang dibangun adalah bagaimana caranya tidak kehilangan bola dengan tetap menyerang. Kunci pengembangan yang diperlukan dalam sistem seperti kita ini adalah adanya sebuah Liga yang mulai diperkenalkan kepada remaja mulai Usia 14 tahun alias dari KU 14. Ini akan sangat luar biasa jika kita bisa membuatnya karena akan menghadirkan pola permainan yang kompetitif. Di Belgia dan Jerman hal seperti ini sudah diterapkan. Ada liga, kartu dan sanksi bagi mereka yang mengikuti liga Kelompok Usia ini. Tetapi, semuanya sama. Tidak ada menang kalah.

Tujuan yang ingin dicapai hanyalah bahwa para pemain terbiasa dengan aturan dan kondisi permainan yang berbeda boleh dibilang gengsi lah yang pada akhirnya menentukan menang kalah. Sepak Bola kompetitif di Kelompok Usia 14 tahun sangatlah relevan. Kenyataan memperlihatkan bahwa sistem pembinaan pemain muda di Indonesia sangat tidak cocok jika terus diterapkan seperti ini. Kritik Alfred Riedl tentang pembinaan sepak bola di Indonesia mungkin sangat tepat.

“Masalah untuk tim seperti Indonesia adalah para pemain muda terbiasa dengan kemudahan. Mereka bergaung dengan sekolah sepak bola mungkin pada umur 10 atau 11 tahun dan semuanya sudah diberikan untuk mereka. Mereka kemudian masuk klub dan pada akhirnya masuk tim inti tanpa ada bekalan khusus tentang peraturan, tentang taktik, tentang formasi dan pemahaman strategi yang memadai.” Kata Alfred Riedl.

Harapannya padahal adalah bahwa pemain yang berusia 9-13 tahun yang berada di sekolah sepak bola bisa mengembangkan teknik mendasar dan pemahaman taktik dan strategi. Mereka juga seharusnya belajar tidak hanya berlatih. Tentunya belajar tentang sepak bola. Ini bukan hanya tentang “Menang adalah kewajiban” atau “Bagaimanapun caranya harus menang” tetapi ini adalah bagaimana cara mereka mempertahankan bola dan tetap menyerang serta ngotot untuk tetap menyerang. Tidak ada kata bertahan teknik seperti ini sebenarnya sudah diperkenalkan di Eropa sejak puluhan tahun lalu. Maka, jangan heran, jika para pemain sepak bola yang bermain sudah cukup pintar.